jorgen-hannah

Jorgen - Hannah

Jorgen Doyle and Hannah Ekin are artist-researchers from Hobart, Tasmania, and members of the Arts Factory collective. They are interested in children’s geographies and architectures of childhood as a means of envisioning more just, more vibrant forms of city life. Another strand of interest is archaeologies of the contemporary past, and a belief in children’s capacities to see unexpected potentials in objects typically disregarded by adults. In doing so, children’s activities can offer critical comment on the built world beyond the immediate site of their activities.

Facilitated by the Jogja Independent Residency Project and the ketjilbergerak collective, Jorgen and Hannah have spent the last two months living and working in Kampung Ratmakan. Drawing inspiration from the post-WWII ‘junk playground’ movement, largely built by children themselves from waste materials, they have established a playground based on similar principles.

Situated on a plot of largely disused land beside the Kali Code, they have immersed themselves in turning over landfill, sifting soil from the waste, and collecting discarded, re-used and vernacular materials with which to assemble a process-based playground.

Some ideas to think about before coming to the talk is ‘Junkology’ - what a good word it is.

The junk playground “as the realization of Dada aesthetics, in which the playful and collective reassembling of the leftovers of a machine civilization presented an alternative conception of architecture”

---

Jorgen Doyle dan Hannah Ekin adalah seniman-peneliti dari Hobart, Tasmania sekaligus anggota kolektif seni The Arts Factory. Mereka tertarik dengan geografi kanak-kanak dan arsitektur masa kecil sebagai cara untuk membayangkan kehidupan kota yang lebih setara dan hidup. Mereka juga tertarik dengan arkeologi kontemporer masa lalu, dan percaya pada kapasitas anak-anak dalam melihat potensi tak terduga pada objek-objek yang biasanya diabaikan oleh orang dewasa. Aktivitas anak-anak ini pada akhirnya dapat menawarkan komentar-komentar kritis pada dunia yang dibangun di luar situs kegiatan mereka.

Difasilitasi oleh Jogja Independent Residency Project dan ketjilbergerak, Jorgen dan Hannah telah tinggal dan bekerja selama dua bulan di Kampung Ratmakan. Terinspirasi dari gerakan ‘taman bermain dari barang bekas’ pasca Perang Dunia Kedua yang sebagian besar dibangun oleh anak-anak, mereka membangun taman bermain dengan metode serupa.

Bertempat di tanah kosong di bantaran Kali Code, mereka bekerja setiap hari membongkar timbunan sampah, memilah-milah tanah, dan mengumpulkan barang-barang bekas, benda-benda tak terpakai yang masih bisa digunakan dan material vernakular lainnya yang dapat digunakan untuk membangun sebuah taman bermain yang terus bertumbuh.

Sebuah gagasan yang bisa kita pikirkan sebelum kita datang dan duduk bersama di Bincang Sore ini adalah junkology- kata yang menarik sekali.

Taman Bertumbuh “sebagai realisasi estetika Dada, di mana sisa-sisa mesin peradaban dirakit dan dimainkan bersama-sama, dan disajikan sebagai alternatif konsep arsitektural”.

http://tamanbertumbuh.tumblr.com/
https://www.facebook.com/Taman-Bertumbuh-683363421807648